
My Invitation letter
Menjadi salah satu delegasi dari Indonesia untuk menghadiri konferensi pemuda internasional merupakan dambaan setiap pemuda. Salah satu hobbi saya adalah browsing informasi sebanyak-banyaknya, makanya saya pasang WiFi di kosan saya, sehingga saya mudah dalam menggeluti hobbi saya tersebut. Saat itu awal Oktober 2012, saya mendapatkan informasi dari teman saya (no mention), katanya aakan ada seleksi mahasiswa untuk mengikuti konferensi pemuda Internasional di Bangkok, Thailand. Kemudian saya mencoba browsing apa yang dimaksud teman saya tadi, tetapi alhasil ga ada satu pun informasi yang dia maksud keluar dari mbah google. Akhirnya saya cari cara lain, yakni saya coba cari informasi di social network, entah kebetulan atau gimana, informasinya keluar dari group internasional yang saya tergabung di dalamnya. Dari situ saya telusuri satu-satu maksud dan tujuan konferensi tersebut.
Beberapa hari setelah itu, saya konsultasikan dengan salah satu Sekretaris Koordinator Program Keahlian saya. Dia sangat senang mendengar kabar tersebut, karena belum pernah ada mahasiswa jurusan saya yang punya keinginan untuk bisa mengikuti kegiatan kemahasiswaan bertaraf internasional tersebut. Akhirnya beliau menyuruh saya dan satu teman saya untuk memperjuangkan konferensi ini agar kami bisa berangkat.
Beberapa hari setelah konsultasi, saya mendaftar dengan teman saya dan membayar “delegate fee” sebesar US $110. Beberapa hari setelah itu kami mendapatkan “invitation letter” dari komite konferensi bahwa kita terpilih untuk mengikuti konferensi internasional tersebut yang selanjutnya disebut “Spark Conference”. Kami cuma punya waktu satu minggu untuk mengurus keberangkatan kami, sponsor, dan surat izin dari institusi. Awalnya kami pesimis, karena Koordinator Program Keahlian kami mengatakan perlu waktu sekitar minimal satu bulan untuk mengajukan sponsor dana serta surat izin institusi, sedangkan kami cuma punya waktu satu minggu.
Ishhhhh, bingung lah kami berdua. Akhirnya kami memutar otak untuk bagi tugas.
1. Saya mengurus surat izin Institusi
2. Teman saya mengurus sponsor.
Pengurusan surat izin ke Institusi ternyata susah-susah gampang beroo. Awalnya saya mendatangi DirMaWa. Setelah itu saya menanyakan proses keberangkatan ke luar negeri. Mereka banyak cerita begini-begitu, ngejek saya, berceloteh, bercanda tentang kami, dll. Perasaan saya saat itu agak marah sekali karena martabat yang dipertaruhkan dan nama baik. Tapi saya mencoba untuk bertahan (cieehh, sinetron banget lah)
Akhirnya otak saya berfikir, bagaimana kalau saya langsung ke Wakil Rektor aja, biar ga kena ejek bawahan pak Wakil Rektor bidang kemahasiswaan tersebut. Alhasil saya mendapatkan no. HP nya. Dari situ saya sms an sama bapaknya dengan menggunakan bahasa inggris. Banyak sekali yang bapak tanyakan, jadi saya harus jelasinnya panjang lebar, sampai pulsa saya habis hahha. (udahlah)
Dari situ memang katanya prosesnya sekitar 1 minggu, tapi karena saya jelaskan kalau hal ini tidak mungkin lagi menunggu waktu, makanya bapaknya langsung meleleh dengan rayuan gombal saya (jiahahaha). Akhirnya bapaknya minta kirim email saja, tentang essay atau materi yang akan saya sampaikan di Bangkok Thailand nanti dalam bahasa inggris, selain itu proposal tentang berapa jumlah dana yang diperlukan. Cuka menunggu 1 malam saja, saya langsung dibalas bapaknya. Katanya ini konferensinya bagus, kalian bisa berangkat dan saya mengizinkan.
Senanglah saya pastinya kan, tetapi yang jadi pertanyaan ini disetujui berangkat kok gag ada secara tertulis?? Hmhmh. Tambah bingung, tapi akhirnya saya langsung menghubungi Koordinator Program Keahlian (KPK) saya. Beliau langsung tanggap bagus sekali. Akhirnya dirapatkan sama Wadir I bidang pendidikan dan Wadir III biadang kemahasiswaan. Dari situ ternyata ada kejanggalan, bahwa laporan dari teman saya yang mengurusi sponsor tadi, ternyata DITOLAK TOTAL. Alias ga dapat dana.
Aaaahhhhhhhh, rasanya ingin terbang kelangit ketujuh dan ga usah balik lagi ke bumi lah. Diskusi akhir menyatakan kami tidak jari berangkat ke Thailand. Sumpah nyesek banget dengar keputusan akhirnya, karena ga ada dapat dana dari sponsor. Terus pertanyaan gue, kenapa ga Institusi saja yang menyokong dana???Hmhmh.
Tapi ya udahlah. Perasaan gue, sedih pasti ada. Kecewa pasti ada, tapi ga mau larut dalam kekecewaan itu, walaupun usaha untuk mendapatkan surat izin dan sponsor dalam satu minggu itu cukup menyita waktu, tenaga dan uang kami. Bahkan kami rela-relakan bolos serta berbohong untuk mengejar target sponsor dan surat izin.
Setelah hari itu, kami langsung konsultasi sama Sekretaris KPK kami sebagai advisor kami. Beliau bilang bangga dengan usaha kami walaupun ujung-ujungnya ga jadi berangkat untuk mengikuti konferensi. Beliau bahkan memberikan sebuah hadiah hasil buatan beliau sendiri sebagai tanda salut atas usaha dan kerja keras kami mulai dari pendaftaran hingga diskusi penentuan keberangkatan kami.
Pelajaran yang gue ambil dari sini adalah keberhasilan seseorang itu ga cuma usaha yang kuat tapi juga oa serta ridho dari orang tua juga sangat berpengaruh sekali. Gue jadi lebih banyak memotivasi diri bagaimana seseorang itu dalam kondisi kegagalan bisa bangkita kembali menjadi lebih kuat dan mengalahkan medan dengan kekuatan yang berlipat-lipat ganda.
By ; M Amir Syarifuddin
Bogor



